Langsung ke konten utama

Postingan

Beruntungnya Orang Sial Dan Sialnya Orang Beruntung

Bagi orang beruntung, tidak ada hari keberuntungan. Karena setiap hari sudah cukup aman untuk dijalani. Hidup tidak selalu mudah bagi mereka, tapi jarang sekali benar-benar menjatuhkan. Jika satu pintu tertutup, selalu ada lantai yang masih menopang. Jika jatuh, ada tangan yang bisa diraih. Keberuntungan mereka bukan peristiwa, melainkan kondisi. Sebaliknya, bagi orang yang sering disebut sial, tidak ada hari sial. Karena setiap hari selalu mengandung risiko. Hidup bagi mereka bukan tentang memilih yang terbaik, melainkan tentang menghindari yang paling buruk. Bukan soal ambisi besar, tapi soal bertahan agar tidak runtuh. Maka jangan heran jika mereka terlihat terlalu berhitung, terlalu waspada, terlalu lelah. Taruhannya memang tidak pernah kecil. Orang sial sibuk mencari keberuntungan. Bukan karena serakah, melainkan karena keberuntungan bagi mereka adalah kebutuhan dasar. Seperti udara. Seperti jeda. Seperti satu hari tanpa harus menyelamatkan diri sendiri. Sementara orang beruntung ...
Baca selengkapnya: Beruntungnya Orang Sial Dan Sialnya Orang Beruntung

Hidup Terus Berjalan dan Aku Tetap di Sini

Aku melihat mereka hidup. Bukan sekadar berjalan, tapi benar-benar hidup. Dengan tawa yang dulu sempat kubayangkan akan kudengar dari jarak dekat, dengan kebahagiaan yang tanpa sadar kutaruh di masa depanku sendiri. Aku tidak iri. Aku hanya lelah. Ada rasa aneh ketika menyadari bahwa orang-orang yang kau kira akan berjalan bersamamu ternyata sampai lebih dulu, lalu menetap, tanpa menoleh. Sementara aku masih berdiri di titik yang sama, menatap hidup dari luar kaca. Lalu aku bagaimana? Ini bukan soal kalah cepat. Bukan soal salah memilih. Ini soal kenyataan bahwa hidup bisa begitu kejam tanpa perlu meminta maaf. Aku sudah berusaha. Berharap secukupnya. Menunggu sewajarnya. Mencintai tanpa berisik. Tapi hidup tetap berjalan dengan caranya sendiri, seperti seseorang yang tidak peduli apakah aku ikut tertinggal atau tidak. Yang paling menyakitkan bukan kesendirian. Melainkan menyadari bahwa hidup terus memberi bukti bahwa aku tidak termasuk dalam skenario bahagia yang sempat kupercaya. Aku...
Baca selengkapnya: Hidup Terus Berjalan dan Aku Tetap di Sini

Gambarnya Hanya Sampai Dikepala

Aku selalu tahu dengan siapa aku ingin hidup. Bukan sekadar bayangan kabur, tapi gambaran yang utuh. Bagaimana pagi dijalani, bagaimana diam dibagi, bagaimana lelah diletakkan di tempat yang aman. Semua itu ada, rapi, lengkap, bahkan sebelum hidup menanyakan apa pun padaku. Namun setiap kali aku hendak memulainya, gambaran itu memudar. Bukan karena aku ragu. Bukan karena aku takut. Melainkan karena hidup seolah selalu tiba lebih dulu dan berkata bahwa gambar ini tidak perlu diwujudkan. Aku tidak pernah sampai pada fase memperjuangkan. Tidak pernah berada di persimpangan antara bertahan atau pergi. Segalanya selesai sebelum benar-benar dimulai, seolah takdir hanya mengizinkanku untuk memahami, bukan memiliki. Yang tersisa bukan kemarahan, juga bukan penyesalan. Hanya keheningan yang terlalu akrab. Keheningan dari rencana yang matang, tapi tidak pernah diberi waktu untuk menjadi nyata. Aku tidak merasa kalah. Karena aku tidak pernah bertanding. Aku juga tidak merasa gagal. Karena aku tid...
Baca selengkapnya: Gambarnya Hanya Sampai Dikepala

Sebagian Dituntut Hasil, Sebagian Dituntut Bertahan

Tujuan hidup manusia sering kali sama. Hampir semua orang ingin sampai pada tempat yang mereka sebut cukup, aman, dan bermakna. Yang membedakan bukanlah arah, melainkan cara setiap orang berangkat menuju ke sana. Sebagian orang memulai perjalanan dengan persiapan yang nyaris sempurna. Mereka memiliki kendaraan, peta, bahkan seseorang yang mengemudikan arah. Jalan terasa lebih mulus, keputusan lebih ringan, dan kesalahan jarang diberi ruang. Mereka tinggal menjalani. Namun di balik semua kemudahan itu, ada beban yang tidak kecil. Gagal bukan sekadar kegagalan, melainkan pelanggaran terhadap segala fasilitas yang telah diberikan. Dengan bekal sebesar itu, kegagalan dianggap tidak wajar. Sebagian lainnya memulai perjalanan dengan tangan kosong. Mereka tahu tujuannya, tetapi tidak tahu bagaimana mencapainya. Tanpa kendaraan, mereka harus berjalan. Tanpa peta, mereka harus bertanya di setiap persimpangan. Tanpa bekal, mereka belajar bertahan dari hari ke hari. Setiap langkah menuntut akal, ...
Baca selengkapnya: Sebagian Dituntut Hasil, Sebagian Dituntut Bertahan

Ketika Emosi Terlalu Terlatih

Ada fase dalam hidup ketika perasaan tidak lagi bergelora, tapi juga tidak mati. Hidup terasa datar, bukan karena tidak ada kejadian, melainkan karena semuanya terasa lewat begitu saja. Aku tidak benar-benar punya kesenangan, tapi juga tidak menyimpan kebencian. Segalanya hadir sebentar, lalu pergi tanpa bekas yang cukup kuat untuk ditinggalkan. Ketika keinginanku tidak terpenuhi, aku sedih. Tapi kesedihan itu cepat selesai, seolah aku sudah hafal jalurnya. Ketika kebutuhanku terpenuhi, aku bahagia. Namun kebahagiaan itu pun tidak menetap. Ia datang, memberi isyarat singkat, lalu berlalu seperti tamu yang tidak ingin mengganggu. Aku tidak lagi larut. Aku tidak lagi terjatuh terlalu dalam, baik ke arah senang maupun ke arah kecewa. Aku menyadari sesuatu yang aneh. Aku menjadi sangat terlatih secara emosional. Terlatih menerima, terlatih memahami, terlatih merasionalisasi. Tidak ada ledakan, tidak ada penolakan, tidak ada perlawanan berarti. Semua terasa bisa dijelaskan, bisa diterima, b...
Baca selengkapnya: Ketika Emosi Terlalu Terlatih

Berhenti Meyakinkan, Mulai Menghormati

Ada titik dalam hidup ketika kita akhirnya berhenti bertanya apakah kita masih bisa meyakinkan seseorang. Bukan karena jawabannya sulit, tetapi karena kita sudah tahu jawabannya sejak awal. Seseorang hidup dari keyakinannya sendiri, dan keyakinan bukan sesuatu yang bisa dipindahkan dengan argumentasi atau perasaan sekuat apa pun. Di titik itu, upaya meyakinkan tidak lagi terdengar seperti cinta, melainkan seperti paksaan yang dibungkus kepedulian. Kita bisa terus berbicara, terus menjelaskan, terus berharap ada celah kecil yang bisa dimasuki. Tapi semakin lama kita melakukannya, semakin jelas bahwa yang kita pertahankan bukan lagi hubungan, melainkan ego kita sendiri yang tidak siap dilepaskan. Menghormati pilihan seseorang sering disalahpahami sebagai menyerah. Padahal ia adalah bentuk keberanian yang berbeda. Keberanian untuk mengakui bahwa tidak semua hal yang kita rasakan harus menjadi alasan orang lain mengubah hidupnya. Keberanian untuk tidak memaksa seseorang tinggal di tempat y...
Baca selengkapnya: Berhenti Meyakinkan, Mulai Menghormati

Cinta Adalah Penghormatan

Menghormati pilihan seseorang sering terdengar seperti keputusan yang mulia. Padahal di dalamnya, ada kehilangan yang tidak kecil. Ada ego yang harus ditundukkan, ada harapan yang harus dilepas perlahan, dan ada bagian diri yang diam-diam bertanya mengapa aku yang harus mengerti lebih dulu. Tidak semua orang sanggup berada di posisi ini. Karena menghormati berarti menerima kenyataan bahwa perasaan kita tidak selalu cukup untuk menjadi alasan bagi orang lain bertahan. Dan itu menyakitkan, bukan karena kita ditolak, tetapi karena kita sadar penolakan itu lahir dari keyakinan, bukan ketidaktahuan. Orang sering berkata, jika benar mencintai maka berjuanglah. Mereka lupa bahwa ada cinta yang justru diuji ketika kita memilih tidak mengganggu arah hidup seseorang. Ada perasaan yang tidak ingin dimenangkan, hanya ingin dijaga agar tidak berubah menjadi luka bagi siapa pun. Menghormati pilihan bukan tindakan pasif. Ia adalah kerja batin yang sunyi. Kita harus cukup dewasa untuk menahan keingina...
Baca selengkapnya: Cinta Adalah Penghormatan

Cinta Dan Penghormatan

Ada satu titik dalam hidup ketika meyakinkan seseorang tidak lagi lahir dari kepedulian, melainkan dari ketidakmampuan kita menerima kenyataan. Bukan karena kita kurang argumen, bukan pula karena kita kehabisan kata, tetapi karena orang di hadapan kita sudah hidup dari keyakinannya sendiri. Pada titik itu, keyakinan bukan lagi ruang diskusi. Ia telah menjadi rumah. Dan rumah tidak dibangun untuk dibantah, melainkan untuk ditempati.  Kita sering keliru mengira bahwa terus meyakinkan adalah bentuk cinta. Padahal, ketika seseorang sudah berdiri di atas pilihannya dengan sadar, setiap usaha untuk mengubahnya hanya akan terasa seperti penyangkalan terhadap siapa dirinya. Kita tidak sedang menyelamatkan, kita sedang mengganggu keseimbangannya. Menghormati pilihan bukan berarti setuju. Menghormati juga bukan berarti menyerah. Ia adalah pengakuan paling dewasa bahwa setiap manusia berhak hidup dengan keyakinannya, meski keyakinan itu tidak membawa kita ke tempat yang sama. Ada saatnya kita...
Baca selengkapnya: Cinta Dan Penghormatan

Mengapa Kita Tidak Pernah Terbiasa

Dalam hidup, setiap rasa selalu datang berulang, namun tidak pernah benar-benar sama. Seperti hari. Hari ini Kamis, minggu lalu juga Kamis, minggu depan pun Kamis. Namun tidak ada satu Kamis pun yang identik. Intensitasnya berubah, beban yang dibawa pun berbeda. Begitu pula dengan perasaan. Luka, kegagalan, kehilangan, dan kebahagiaan bukan hal baru bagi manusia. Kita pernah merasakannya, mungkin sedang mengalaminya, dan sangat mungkin akan menemuinya lagi. Lalu muncul pertanyaan yang sederhana namun membingungkan: jika semua ini berulang, mengapa kita tidak pernah benar-benar terbiasa? Ada anggapan bahwa seseorang yang sering gagal akan semakin kebal terhadap rasa gagal itu sendiri. Seorang sahabat pernah berkata, penolakan pertama adalah bencana, penolakan kedua adalah bencana besar, dan selanjutnya hanyalah angka. Seolah rasa bisa berubah menjadi statistik. Seolah manusia bisa dilatih hingga tidak lagi merasa. Namun hidup tidak sesederhana itu. Rasa tidak bekerja secara linier. Seti...
Baca selengkapnya: Mengapa Kita Tidak Pernah Terbiasa

Apakah Kamu Dirayakan?

Pernahkah kamu benar-benar dirayakan? Bukan sekadar hadir, tapi keberadaanmu disadari. Keberhasilanmu diakui. Hidupmu dianggap berarti oleh orang lain. Lalu bagaimana dengan mereka yang terlalu akrab dengan kegagalan, kesepian, dan penderitaan? Apakah orang-orang seperti itu harus merayakan kepahitan dengan suka cita, seolah luka adalah prestasi yang pantas dipamerkan? Percaya atau tidak, orang-orang yang dilupakan sering kali sudah lama melupakan dirinya sendiri. Bukan karena mereka ingin, melainkan karena terlalu sering hidup berjalan tanpa ada yang benar-benar menoleh. Mereka terbiasa tidak dipanggil, tidak dicari, tidak ditunggu. Pada akhirnya, mereka belajar untuk tidak berharap. Orang-orang seperti ini tampak kebas. Namun kebas bukan berarti mati rasa. Justru sebaliknya. Mereka rapuh di setiap celah. Sedikit perhatian bisa terasa berlebihan. Sedikit penolakan bisa terasa menghancurkan. Mereka tidak keras karena kuat, tetapi karena terlalu sering dipaksa bertahan tanpa pegangan. K...
Baca selengkapnya: Apakah Kamu Dirayakan?

Catatan Seorang Penyitas

Aku tahu hidupku tidak pernah tenang. Sejak awal, ia dipenuhi badai. Sebagian datang dari luar, sebagian lagi lahir dari keputusanku sendiri. Aku tidak asing dengan pusaran, tidak kaget pada gelombang besar, dan tidak lagi heran ketika hidup kembali menguji ketahananku. Jika ini sebuah pelayaran, maka ini adalah ekspedisi laut yang keras. Bukan perjalanan singkat, bukan rute aman. Berkali-kali aku hampir tenggelam. Berkali-kali aku merasa nyaris mati, bukan karena ombak, tapi karena lelah yang menumpuk tanpa sempat diurai. Namun setiap kali itu juga, aku bertahan. Aku selalu bertahan. Dan di situlah pertanyaannya mulai muncul. Setelah semua badai itu, setelah seluruh upaya untuk tetap hidup, mengapa yang tersisa justru kehampaan? Aku selamat, ya. Aku tidak hancur. Aku tidak menyerah. Tapi hidup terasa berjalan lurus, datar, tanpa sesuatu yang benar-benar terasa berarti. Tidak ada rasa tiba. Tidak ada perasaan menang. Tidak juga rasa kalah. Hanya bergerak, terus bergerak, seolah bertaha...
Baca selengkapnya: Catatan Seorang Penyitas

Benarkah Aku Yang Terlambat?

Beberapa orang bilang aku selalu terlambat. Terlambat memahami, terlambat melangkah, terlambat memilih. Dan pada akhirnya, mereka pergi bersama orang lain, seolah aku memang datang setelah segalanya selesai. Padahal ini bukan tentang aku yang datang tidak tepat waktu. Ini tentang aku yang tidak pernah benar-benar diberi waktu. Mereka tidak tahu bagaimana aku menahan langkah, bukan karena ragu, tapi karena ingin tiba dengan utuh. Mereka tidak melihat bagaimana aku menunggu momen yang jujur, bukan yang tergesa. Aku bukan diam karena tidak mau, tapi karena percaya bahwa sesuatu yang bernilai tidak seharusnya dipaksa datang lebih cepat dari kesiapannya. Namun dunia jarang sabar pada orang yang berjalan pelan. Di saat aku masih memastikan hatiku tidak salah arah, mereka sudah memilih berlari. Dan ketika aku akhirnya sampai, yang tersisa hanyalah cerita bahwa aku terlambat. Aku tidak menyesali itu. Karena aku tahu, keterlambatanku bukan kegagalan, hanya ketidaksamaan ritme. Aku tidak kalah o...
Baca selengkapnya: Benarkah Aku Yang Terlambat?

Bukan Mudah Menyerah Tapi Tau Kapan Berhenti

Sebenarnya aku bukan orang yang mudah menyerah. Aku hanya seseorang yang tahu kapan harus berhenti. Ada perbedaan besar di antara keduanya, meski sering disamakan oleh mereka yang tidak pernah benar-benar berjalan jauh. Aku berhenti bukan karena aku pandai berhitung untung dan rugi. Bukan pula karena aku kekurangan keberanian. Justru sebaliknya, berhenti sering kali datang setelah keberanian itu digunakan habis-habisan. Setelah usaha dicoba dengan jujur. Setelah harapan diberi ruang untuk tumbuh, meski perlahan dan sering kali sendirian. Orang yang belum pernah dihentikan biasanya mengira berhenti adalah pilihan yang mudah. Mereka melihatnya dari jauh, dari posisi aman, tanpa pernah tahu rasanya melangkah satu atau dua langkah ke depan lalu dipaksa berhenti tepat di sana. Tepat saat tubuh sudah condong, niat sudah terlanjur jauh, dan hati sudah mulai percaya. Mereka yang pernah berada di titik itu akan mengerti. Mengerti bahwa berhenti bukan selalu tentang kalah, tapi tentang menjaga d...
Baca selengkapnya: Bukan Mudah Menyerah Tapi Tau Kapan Berhenti

Titik Terakhir Rasionalitas adalah Keajaiban

Kadang, sebagian orang bukan karena tidak peka. Mereka sangat sadar—sadar pada setiap tanda, sekecil apa pun, bahkan sejak awal. Mereka membaca dunia dengan detail yang nyaris sempurna, menangkap nuansa yang sering terlewat oleh banyak orang. Namun, yang mereka miliki hanyalah satu hal: percaya. Dan untuk menyingkirkan kepercayaan itu, satu-satunya yang tersisa setelah segala logika dan upaya habis, adalah sesuatu yang terlalu menyakitkan untuk dilakukan. Tidak peduli betapa kemustahilan terlihat nyata di depan mata, mereka tetap memilih percaya. Orang-orang seperti ini bukannya tidak rasional. Mereka telah menggunakan logika hingga habis. Setiap kemungkinan telah ditimbang, setiap jalan telah diperiksa, setiap risiko dianalisis. Maka harapan atau bahkan keajaiban bagi mereka bukan pilihan naif, melainkan keputusan terakhir yang masuk akal. Kepercayaan itu bukan kebodohan. Ia adalah keberanian terakhir, cara halus untuk tetap memberi kesempatan pada kemungkinan, meski tipis, rapuh, dan...
Baca selengkapnya: Titik Terakhir Rasionalitas adalah Keajaiban

Mudah-mudahan

Harapan dalam hidup sering kali dimulai dari satu kata sederhana: mudah-mudahan. Kata kecil yang terdengar rapuh itu seperti jembatan pertama yang kita lewati sebelum menatap hari esok. Dan lucunya, kita mengucapkannya bukan karena hidup ini ringan, melainkan justru karena kita tahu betul bahwa tidak ada hidup yang benar-benar mudah. Mudah-mudahan adalah cara paling lembut untuk mengaku bahwa ada bagian dalam diri kita yang lelah, yang ragu, yang tidak yakin bisa menanggung semuanya sendirian. Ia adalah bisikan yang muncul ketika logika sudah selesai, ketika usaha sudah dilakukan, dan ketika satu-satunya yang tersisa hanyalah kejujuran bahwa hidup kadang menggigit lebih keras dari yang kita bayangkan. Setiap orang memakai kata itu, dengan caranya masing-masing. Ada yang menjadikannya harapan, ada yang menyebutnya doa, ada pula yang menggunakannya sebagai pelarian halus dari kenyataan yang terlalu berat untuk dihadapi tanpa perantara. Namun pada akhirnya, mudah-mudahan adalah pengakuan ...
Baca selengkapnya: Mudah-mudahan

Dari Dulu Masalahnya Cuma Satu : Kesempatan.

Sejujurnya, jika aku menoleh ke belakang, masalahku dari dulu tampaknya hanya satu: kesempatan. Bukan karena aku menyia-nyiakannya, tetapi karena sering kali aku bahkan tidak pernah memilikinya. Orang-orang berkata kesempatan tidak datang dua kali. Bagiku, kalimat itu terdengar mewah. Sebab dalam hidupku, kesempatan sering kali tidak datang sama sekali. Aku menunggu, bersiap, menjaga diriku sedalam mungkin, tetapi dunia tetap berlalu tanpa menoleh, seolah aku tidak pernah berdiri di sana. Dan pada titik tertentu, aku mulai bertanya dengan jujur: apakah selama ini aku yang tidak cukup terlihat, atau memang kesempatan tidak pernah berniat datang padaku? Ada pahit yang sulit dijelaskan ketika kamu tahu dirimu mampu, namun tidak pernah diberi ruang untuk membuktikannya. Ada sunyi yang menyesakkan ketika kamu mempersiapkan diri bertahun-tahun, tetapi pintu yang kamu tunggu bahkan tidak pernah terbuka setengah. Kadang hidup terasa seperti panggung yang tidak pernah memanggil nomorku. Aku men...
Baca selengkapnya: Dari Dulu Masalahnya Cuma Satu : Kesempatan.

Suara Tanpa Getar Adalah Diam

Ada saat dalam hidup ketika seseorang yang terlalu diam akhirnya mengerti sesuatu yang sederhana namun menyakitkan: bahwa kualitas yang tidak terlihat sama saja dengan tidak ada. Dunia tidak punya waktu untuk membongkar kedalaman seseorang satu per satu. Bahkan yang paling layak sekalipun bisa lolos dari pandangan hanya karena ia tidak menampakkan diri. Dan itu pahit, sebab selama ini aku percaya bahwa kedalaman akan menemukan jalannya sendiri untuk terlihat. Nyatanya, tidak. Aku pernah berpikir bahwa menjadi baik itu cukup. Bahwa ketenangan akan dibaca sebagai kematangan, dan kedalaman akan dikenali oleh mereka yang peka. Tapi hidup tidak berjalan dengan logika seperti itu. Di antara orang-orang yang berteriak, seseorang yang hanya berdiri tenang bukan terlihat bijak, melainkan menghilang. Perlahan aku menyadari bahwa itulah caraku hidup selama ini: menghilang sedikit demi sedikit, sampai bahkan aku sendiri lupa bagaimana rasanya benar-benar hadir. Aku terlalu sering memilih diam. Ter...
Baca selengkapnya: Suara Tanpa Getar Adalah Diam

Titik Tergerak

Ada hari-hari ketika aku menatap hidupku sendiri seperti menatap cermin yang terlalu jujur. Tidak retak, tapi cukup kotor untuk membuat wajahku terlihat lebih lusuh dari yang seharusnya. Dari pantulan itu, aku sadar banyak hal yang kulakukan bukan karena aku ingin, melainkan karena aku terlalu lama membiarkan hidup berjalan tanpa kendali. Beberapa pilihan terasa seperti luka kecil yang tidak pernah benar-benar sembuh. Tidak besar, tidak dramatis, tapi cukup dalam untuk membuatku bertanya: “Untuk apa semua ini?” Orang bilang jangan menyesal. Tapi mereka tidak pernah menatap malam yang licin dan sunyi seperti aku. Mereka tidak pernah mendengar denting kecil dari kesadaran yang jatuh di dada, mengingatkan seberapa jauh aku membiarkan diriku tersesat. Namun anehnya, di tengah semua itu muncul sesuatu yang tidak kusangka: keinginan untuk memperbaiki sedikit saja hidup yang masih tersisa. Bukan untuk siapa pun. Bukan demi pengakuan atau perubahan besar yang memukau. Tidak. Keinginanku sederh...
Baca selengkapnya: Titik Tergerak

Gelombang Yang Tak Terlihat Di Permukaan

Ada orang-orang yang tidak akan pernah kau temui di permukaan. Bukan karena mereka bersembunyi, tapi karena kedalaman mereka tidak bisa berdiri di tempat yang dangkal. Mereka bukan sosok yang riuh, bukan suara paling keras di ruangan, bukan ombak yang memecah batu di tepi pantai. Mereka lebih mirip samudra yang dalam: tenang di atas, penuh dunia di bawahnya. Orang seperti ini jarang menimbulkan gelora. Yang terlihat hanya riak kecil hampir tak berarti bagi mata yang terbiasa mencari gemuruh. Padahal riak itu tercipta dari gelombang yang tak terhitung jauhnya di kedalaman. Dan kedalaman selalu menjadi tempat yang sunyi. Kau tidak bisa mengenal mereka dengan berdiri di tepi. Kau harus menyelam, masuk perlahan, melewati lapisan-lapisan yang tidak disiapkan untuk orang yang terburu-buru. Sebab nilai paling tinggi tidak pernah memanggil perhatian; nilai itu hanya bisa ditemukan oleh mereka yang rela menurunkan diri, meninggalkan permukaan yang bising, dan menatap gelap yang tenang tanpa tak...
Baca selengkapnya: Gelombang Yang Tak Terlihat Di Permukaan

Yang Tersisa Adalah Bijak

Orang sering ingin tampak bajik. Berbuat baik agar disukai, berkata benar agar dihormati, tersenyum agar tak disalahpahami. Namun semakin lama aku hidup, semakin aku mengerti bahwa kebajikan sering kali lahir dari ketakutan, bukan dari keikhlasan. Aku, pada dasarnya, tidak ingin menjadi bajik. Dan jika jujur, aku pun jauh dari kata itu. Mungkin aku lebih ingin menjadi bijak. Sebab orang bajik kerap sibuk terlihat benar, sementara orang bijak tahu bahwa kebenaran tidak selalu tampak manis. Dulu aku menilai manusia dari kelakuannya. Sekarang aku mencoba melihat niat di baliknya. Ada yang berbuat baik karena ingin diterima, ada yang tampak dingin karena sedang menahan luka agar tak melukai siapa pun. Yang terlihat lembut belum tentu tulus, yang tampak keras belum tentu jahat. Bijak berarti memahami sebelum menilai. Mendengarkan lebih lama dari biasanya. Mengetahui kapan harus bicara, dan kapan harus membiarkan waktu yang menjelaskan. Aku pernah berusaha menjadi bajik. Yang kudapat hanya l...
Baca selengkapnya: Yang Tersisa Adalah Bijak

Yang Indah Itu Sebab Berbeda

Beberapa orang percaya bahwa sudut pandangnya adalah satu-satunya yang benar. Bahwa dunia harus terlihat seperti yang mereka lihat, bahwa semua orang seharusnya berpikir, merasakan, dan bertindak seperti mereka. Menyangkal perbedaan itu seperti melihat pelangi dengan satu warna. Kamu melewatkan setiap nuansa, setiap lapisan cahaya yang seharusnya membuatmu terpesona. Pelangi tidak pernah satu warna; ia adalah rangkaian cahaya yang memecah sinar menjadi banyak kemungkinan. Dan ketika kita memaksa semua orang, semua ide, semua cara melihat menjadi sama, kita tidak hanya menutup mata pada keindahan, tapi juga menolak kenyataan bahwa dunia ini multi-dimensi, penuh perspektif yang berbeda. Mereka yang menolak perbedaan merasa aman dalam satu sudut pandang. Mereka percaya nyaman adalah benar, dan berbeda adalah salah. Padahal kenyamanan itu hanyalah ilusi; dunia tidak pernah diciptakan agar kita melihat dari satu sisi saja. Kecuali beberapa hal yang bulat sempurna kebenaran mutlak, yang lain...
Baca selengkapnya: Yang Indah Itu Sebab Berbeda

Halaman Paling Rumit Dari Buku Sederhana

Aku telah membaca banyak hal: tulisan yang rapi, pikiran yang berantakan, bahkan diam yang kadang lebih jujur daripada kata-kata. Namun ada satu bagian dari hidup yang selalu luput dariku, seolah setiap kali kudekati, maknanya mengabur seperti tinta yang belum kering: wanita. Mereka bukan misteri, tapi juga bukan cerita yang siap dijelaskan. Mereka lebih seperti puisi yang sengaja dibiarkan terbuka, tempat jeda lebih penting daripada kata, dan perasaan lebih mendahului makna. “Iya” bisa menjadi sebuah undangan, atau hanya kehati-hatian yang terdengar lembut. “Tidak” pun kadang bukan penolakan, melainkan cara halus menjaga dirinya tetap utuh. Setiap sinyal yang mereka beri tidak pernah hitam-putih; selalu ada gradasi yang luput dibaca oleh mata yang terlalu terburu-buru. Mungkin salahku adalah mencoba memahami mereka dengan logika yang sama kupakai untuk memahami dunia. Padahal mereka hidup dari sesuatu yang lebih halus: dari intuisi, dari rasa, dari gelombang batin yang jarang benar-be...
Baca selengkapnya: Halaman Paling Rumit Dari Buku Sederhana

Tersesat Di Jalan Yang Benar

Kadang orang yang dianggap gila hanyalah mereka yang berjalan berbeda. Bukan tersesat, bukan salah, hanya menapaki jalur yang tidak berani dilalui orang lain. Mereka berjalan di belantara yang sunyi, di antara rerimbunan jalan yang takut disentuh kebanyakan orang. Langkahnya tidak selalu terlihat rapi, napasnya kadang tersengal, tapi setiap jejak adalah upaya untuk membuka kemungkinan baru. Sementara kita, dari luar, menatap dan cepat memberi label: “tersesat”, “salah”, “gila”. Padahal kita jarang mau menunggu, jarang mau melihat lebih dalam, jarang mau memahami bahwa yang berbeda bukan berarti salah. Banyak pemikiran yang dulu disebut gila, aneh, atau mustahil, kini menjadi rujukan bagi mereka yang dianggap sepenuhnya waras. Tetapi perjalanan itu tetap sepi, tetap penuh pengorbanan yang tak terlihat, penuh pertarungan yang hanya diketahui oleh mereka yang berani melangkah sendirian. Mereka rela dianggap tersesat, rela dianggap berbeda, agar orang lain bisa melihat jalan yang belum per...
Baca selengkapnya: Tersesat Di Jalan Yang Benar

Takaran Manusia

Dunia ini tidak adil, tapi bukan berarti tanpa alasan. Keadilan kadang tidak datang dalam bentuk kesetaraan, melainkan dalam bentuk pelajaran yang berbeda untuk setiap orang. Ada yang belajar tentang syukur lewat kemudahan, ada yang belajar tentang keteguhan lewat kesulitan. Dan keduanya, bila benar-benar mengerti, akan sampai pada pemahaman yang sama: tidak ada yang benar-benar di atas, tidak ada yang sepenuhnya di bawah; yang ada hanyalah cara berbeda dalam belajar menjadi manusia. Privilege bukan soal siapa yang punya tangan, tapi bagaimana tangan itu bekerja untuk mendapatkan sesuatu. Karena semua orang memang punya tangan, hanya saja sebagian lahir dengan genggaman yang sudah berisi. Sebagian orang hanya perlu duduk santai, menunggu pintu terbuka untuk mereka. Langkahnya tidak kotor, napasnya tidak tersengal, namun jarak yang mereka tempuh terasa ringan karena dunia memang sudah menyiapkan jalan untuknya. Sebagian lagi harus berjalan jauh dengan kaki telanjang, menenteng beban yan...
Baca selengkapnya: Takaran Manusia

The Dirty Oasis

Di dunia yang sibuk menilai siapa yang baik dan siapa yang jahat, kita jarang berhenti sejenak untuk bertanya mengapa seseorang bisa menjadi seperti itu. Mungkin karena manusia lebih gemar menilai hasil daripada memahami proses. Padahal, di antara kebaikan dan keburukan, selalu ada ruang abu-abu yang disebut alasan, dan kadang, di sanalah hati manusia sebenarnya berdiam. Mencari orang baik itu melelahkan. Begitu juga menjadi orang baik. Kadang kita merasa sendirian di jalan yang seharusnya ramai oleh niat baik, tapi ternyata hanya sunyi yang menemani. Dan ketika dalam hidup kita tak kunjung menemukan orang baik, apakah menjadi baik masih relevan? Aku rasa, tetap. Menjadi baik tidak selalu berarti bergumul dengan orang baik. Bahkan manusia paling buruk pun bisa menyimpan sesuatu yang baik, biasanya dalam bentuk pelajaran. Dari mereka kita belajar tentang batas, tentang luka yang jangan diulang, tentang sisi manusia yang harus dijaga agar tak rusak seperti itu. Kebaikan kadang bukan soal...
Baca selengkapnya: The Dirty Oasis

Dwiversi Kebaikan

Kebaikan itu ada dua, dan keduanya tidak selalu lahir dalam bentuk yang sama. Ada kebaikan yang disambut banyak orang—yang terlihat, hangat, dan mudah diamini. Namun ada pula kebaikan yang tersembunyi—dingin, diam, dan baru dipahami setelah luka sembuh. Dan dalam hidup, kita akan bertemu keduanya. Kebaikan bukan hal yang mutlak. Di dunia ini, yang mutlak hanyalah kebenaran, dan kebenaranlah hakim bagi setiap kebaikan. Sebab hal-hal yang tampak baik tidak selalu benar, dan hal-hal yang benar tidak selalu terlihat baik bagi setiap orang. Manusia sering terjebak pada apa yang indah di mata, bukan apa yang benar di hati. Bayangkan seorang ayah yang memberi putrinya sekuntum mawar, dan putranya seonggok pohon jati. Bagi sebagian orang, itu tampak tidak adil: yang satu mendapat keindahan, yang lain hanya batang kayu kasar. Namun kebaikan tidak selalu hadir dengan rupa yang sama. Mawar itu akan layu. Jati itu akan tumbuh, memberi teduh, dan bertahan lebih lama dari hidup sang ayah sendiri. Ka...
Baca selengkapnya: Dwiversi Kebaikan

Dunia Tanpa Kacamata

Dunia adalah puncak bias penilaian, dan manusia adalah korban sekaligus pelakunya. Kadang ada bias yang samar tentang nilai seseorang. Sebelum berbicara tentang nilai, hal yang lebih patut dibicarakan adalah bagaimana seseorang memandang. Karena sering kali, bukan halnya yang kabur, melainkan matanya yang tak lagi jernih. Kadangkala taburan bintang di malam hari hanya bisa dilihat oleh mata telanjang, tanpa lensa, tanpa kacamata. Namun kita tumbuh dalam dunia yang memberi kacamata sejak dini: ukuran, standar, reputasi, dan perbandingan. Kita diajarkan melihat melalui lensa-lensa itu, sampai lupa bagaimana rasanya menatap apa adanya. Kita belajar menilai orang lain lebih cepat daripada memahami alasan di baliknya. Dari situlah bias lahir, bukan karena manusia bodoh, tetapi karena manusia jarang berani menatap tanpa penyaring. Nilai sering kali dibentuk oleh sorotan, bukan oleh substansi. Apa yang tampak benar menjadi ukuran, bukan apa yang sebenarnya benar. Kita menilai seseorang dari h...
Baca selengkapnya: Dunia Tanpa Kacamata

Frekuensi Yang Tenggelam Dalam Keramaian

Ada suara-suara yang tidak lenyap, hanya tenggelam. Mereka tidak kalah keras, hanya tidak dipilih untuk didengar. Dunia ini ramai, dan dalam keramaian itu, yang sunyi sering disalahartikan sebagai tidak ada. Dunia ini tidak dibuat untuk orang-orang yang tenang. Kita dibesarkan dalam diam, dalam ketenangan yang seharusnya menjadi ruang aman. Lalu suatu hari kita sadar: ketenangan tidak dipanggil, tidak dirayakan, tidak disiarkan. Maka kita seperti rumah dengan jendela tertutup—penuh cahaya, tapi tak pernah dilihat. Kau bisa memiliki isi kepala seluas semesta: ide-ide yang berkelok, harapan yang mencakar langit, kedalaman yang tak mudah habis. Namun jika tak ada yang mendengar, kau tetap dianggap kosong. Bukan karena kau hampa, melainkan karena dunia lebih mencintai gema daripada makna. Volume menjadi ukuran. Kedalaman berhenti dihitung. Mereka tidak membaca isi, mereka membaca suara. Yang soraknya paling keras mendapat panggung. Yang berbicara pelan dianggap tak punya suara. Maka wajar ...
Baca selengkapnya: Frekuensi Yang Tenggelam Dalam Keramaian

Kali Ketiga

Apa yang salah jika ini harus menjadi yang ketiga kali? Satu, dua, tiga bukan sekadar urutan angka, juga bukan statistik kegagalan. Meski menyakitkan, setidaknya aku tumbuh. Aku merasa beruntung masih bisa mencinta, meski telah dua kali kehilangan. Kali ini mungkin tidak berbeda, tapi aku tetap ingin mencoba sebaik yang aku bisa. Jika yang ketiga ini berhasil, mungkin bukan karena aku lebih pandai mencinta, melainkan karena waktu akhirnya berpihak. Aku ingin percaya, menyalahkan waktu adalah kesalahan terbesarku selama ini. Maka kali ini, aku memilih percaya saja. Ketika harapan datang lagi, aku tidak akan menolaknya. Apa pun hasilnya nanti, setidaknya masih ada sesuatu yang hidup di tubuh manusia yang pernah kecewa ini: keberanian untuk mencoba lagi.
Baca selengkapnya: Kali Ketiga

Tenang Di Tengah Riuh

Dunia memang berisik. Namun manusia tidak bisa menutup telinga selamanya. Kadang kita perlu mendengar denyut lara di balik setiap teriakan, karena tidak semua suara adalah ancaman. Sebagiannya hanyalah hati yang tidak tahu lagi bagaimana meminta tolong. Kita sering bertanya dalam diam: “Kenapa harus seramai ini? Bukankah aku sudah tenang?” Namun ketenangan kita bukan alasan dunia ikut diam. Ada kepedihan yang tidak padam hanya karena kita berhasil menenangkan milik kita sendiri. Kadang kebisingan itu mengganggu. Namun ada kalanya ia menjadi pengingat: ketenangan bukan ruang kedap suara. Tenang bukan berarti tuli. Tenang adalah kemampuan mendengar tanpa tergulung arusnya. Manusia, mau tidak mau, saling menggaung. Ada hati yang menabrak kita bukan karena benci, melainkan karena tidak menemukan tembok lain yang cukup kuat menampung bebannya. Ada suara yang memecah sunyi bukan untuk mengusik, tetapi untuk memastikan dirinya belum sepenuhnya hilang. Mungkin itulah sebabnya kita tidak bisa m...
Baca selengkapnya: Tenang Di Tengah Riuh

Macam-macam Pikiran Lahir Dari Pikiran Yang Macam-macam

Kadang pikiran seseorang meledak, meski detonatornya sudah lama dikubur jauh di dalam hati. Kita percaya bisa menahan segalanya, padahal justru yang paling kita sembunyikan yang pertama mencari celah untuk keluar. Tidak ada yang lebih berbahaya daripada pikiran yang terlalu penuh namun tidak pernah diberi ruang bernapas. Manusia punya kebiasaan aneh: mencoba menaklukkan hidup hanya dengan kepalanya. Kita mengulang kejadian yang telah lewat, membedahnya seperti mayat yang tak mungkin hidup kembali. Kita menatap masa depan seolah ia sudah terbentuk, lalu takut pada bayangan yang kita ciptakan sendiri. Pikiran berubah menjadi penjara, bukan rumah. Kita sering bangga karena mampu memikirkan segalanya. Namun semakin kita mengejar kepastian, semakin jauh kita dari kedamaian. Overthinking adalah bentuk kesombongan samar: keinginan mengendalikan sesuatu yang bahkan tidak pernah menjadi milik kita. Padahal hidup hanya menuntut satu hal: bertahan hari ini. Bukan menebak besok, bukan mengulang ke...
Baca selengkapnya: Macam-macam Pikiran Lahir Dari Pikiran Yang Macam-macam

Cukup Hidup Untuk Sekedar Hidup Cukup

Manusia modern hidup dengan standar layak hidup yang berbeda. Terbiasa menuntut banyak, namun berusaha sedikit. Lebih sering berusaha terlihat waras daripada benar-benar hidup layak. Bukan karena tidak bisa, melainkan karena standar yang kita ciptakan sering kali mengada-ada. Dulu, bahagia begitu sederhana. Orang-orang lampau cukup merasa cukup. Entah siapa yang memulai, pertarungan ini sebenarnya tidak perlu. Namun zaman sekarang terlanjur bajingan. Orang-orang hidup dengan diagnosa serupa. Kepala pecah terbentur ekspektasi. Mata sobek menatap masa depan. Mulut berair merapal doa-doa dunia. Kepala mengeras, marah pada hidup. Dan begitulah zaman ini: untuk sekadar merasa hidup, kita justru mengorbankan kehidupan yang sesungguhnya. Dari sudut pandang mana pun, ini berlebihan. Tidak seharusnya manusia terlalu keras pada dirinya sendiri hanya karena hidup biasa-biasa saja dianggap tidak populer. Orang bijak kian langka. Yang banyak justru ingin terlihat bajik, namun gagal bersikap bijak p...
Baca selengkapnya: Cukup Hidup Untuk Sekedar Hidup Cukup

Surat Berharga

Tidak ada kata seharusnya. Padahal, kalimat pertama yang ingin kutulis adalah: seharusnya kita bertemu lebih awal. Namun aku mengurungkannya. Sebab jika waktu itu kita sudah bertemu, surat ini mungkin bukan lagi tentangmu. Aku belum tahu siapa kamu. Mungkin kamu bukan salah satu dari mereka yang pernah kutebak selama ini. Hidupku sudah berjalan cukup jauh, tetapi belum ada tanda pasti tentang pertemuan kita. Tanda-tanda yang datang ternyata bukan kamu. Kini aku tidak lagi mencari untuk menemukanmu. Aku percaya, bila aku tidak menemukan seseorang, maka seseorang akan menemukan aku. Siapa yang lebih dulu, itu tidak penting. Yang penting, pada akhirnya, kita akan bertemu. Ini bukan kisah cinta sensasional seperti Romeo dan Juliet, atau Rama dan Sinta. Ini kisah sederhana, tentang dua manusia biasa yang akhirnya saling sampai. Surat ini tidak akan cukup untuk menggambarkan bagaimana nanti tatap pertama itu terjadi, atau alasan mengapa semesta akhirnya mempertemukan kita. Cerita itu terlalu...
Baca selengkapnya: Surat Berharga

Sejatinya Hidup Tidak Menarik, Tapi Mendorong

Apa hidupku menarik? Tentu saja tidak. Sama seperti hidupmu, dan hidup kebanyakan manusia. Hidup kita tidak ditulis untuk menjadi legenda. Ia lebih sering menjadi ironi yang pelan, komedi yang tidak lucu, tapi juga tidak pahit. Kita tidak tertawa karenanya. Kita hanya mengangguk, menerima, lalu berjalan lagi. Hidup pada dasarnya memang tidak menarik. Ia berputar, berulang, membosankan, kadang menyesakkan. Namun bukankah itu justru bentuk paling asli dari hidup? Kehampaan kecil. Rutinitas yang tidak heroik. Hari-hari tanpa bab klimaks. Bukan kegagalan, melainkan keberlanjutan. Aku dulu menolak takdir. Merasa diseret tanpa pilihan, didorong oleh masa lalu, digertak oleh masa depan, digores kasar oleh masa kini. Itu kebodohan yang sama yang dialami banyak manusia: memberontak pada arah yang tidak kita pilih, lalu menyalahkan hidup karena tak sejalan dengan bayangan kita sendiri. Perlahan aku mengerti, takdir bukan monster. Ia hanya peta yang tidak selalu sesuai keinginan. Ia tidak kejam. ...
Baca selengkapnya: Sejatinya Hidup Tidak Menarik, Tapi Mendorong

Dunia Bukan Teman Bicara

Kadang aku butuh teman bicara. Aku cenderung diam, bukan karena tidak ingin berteriak, tetapi karena aku tidak ingin berisik. Dunia tidak selalu ada untuk kita. Faktanya begitu. Jalanan ramai, sementara aku berdiri sendirian di seberang, menatap hidup yang terus melaju tanpa menunggu siapa pun. Kadang kopi dan rokok pun tidak cukup untuk diajak bicara. Kesepian, sesungguhnya, memang mengerikan. Malam terus larut, orang-orang sibuk mengurus dirinya masing-masing. Mungkin itu sebabnya malam terasa makin dingin. Manusia hangat jarang benar-benar bertemu satu sama lain. Kesepian menyesak, seperti orang asing yang dilepas di tengah keramaian, tanpa teman, tanpa paduan. Jika hidup terus berjalan seperti ini, bagaimana mungkin menyalahkan manusia yang menjadi dingin? Tidak ada nyala. Hanya suram dan gelap gulita. Kadang manusia memang butuh gesekan, entah berakhir terang atau gosong sekalian. Setidaknya, aku mencoba. Kesepian sering disebut bayaran dari kebebasan. Namun kebebasan macam apa ya...
Baca selengkapnya: Dunia Bukan Teman Bicara

Untuk Perempuan Yang Menanggung Banyak, Dari Pria Yang Masih Belajar Memahami

Aku semakin yakin, perempuan tidak pernah benar-benar berjalan ringan di dunia ini. Sepatu mereka mungkin rapi, tetapi langkahnya memikul beban yang tidak terlihat. Kecemasan yang dipoles bedak. Luka yang dirapikan sebelum keluar rumah. Harapan yang dipaksa tetap hangat meski hari tidak selalu berpihak. Pria sering dipuji dari otot dan kulit yang menggelap oleh matahari. Tapi perempuan bekerja keras di tempat yang jarang dilihat dunia. Mereka bangun lebih awal, bukan hanya untuk hidup, tetapi untuk menyiapkan wajah agar hidup terlihat baik-baik saja. Ada perempuan yang pulang larut, bukan demi gemerlap ambisi, melainkan karena hidup tidak memberi mereka pilihan lain. Kemandirian sering terasa seperti beban yang harus dirayakan. Dan ketika riasan dilepas, ada lelah yang luruh bersama air di wastafel. Dulu aku pikir aku menyukai perempuan cantik. Ternyata kecantikan paling jujur tinggal di balik mata yang letih namun tetap terjaga, di tangan yang gemetar tapi tetap bekerja, di sikap yang...
Baca selengkapnya: Untuk Perempuan Yang Menanggung Banyak, Dari Pria Yang Masih Belajar Memahami

Papan Bunga, Juru Bicara Kelas Sosial

Setiap pagi, di depan gedung tempatku bekerja, sering kali papan bunga baru berdiri tegak. Warnanya mencolok, hurufnya besar, dan setiap pita seolah berteriak: “Lihat, aku bagian dari perayaan ini.” Awalnya, aku hanya melihatnya sebagai hiasan. Lambang ucapan selamat atau duka. Namun semakin lama, aku sadar papan bunga bukan sekadar papan bunga. Di dalamnya ada simbolisme yang lebih dari sekadar bunga dan pita. Ia adalah pengukuran kelas yang aneh, tapi nyata. Semakin besar, semakin ramai, semakin panjang deretnya di lobi, semakin tinggi pula posisi yang dirayakan. Lucunya, papan bunga membawa pesan sekaligus perbandingan diam-diam. Siapa yang mampu mengirim. Siapa yang cukup penting untuk menerima. Bahkan dalam kematian pun, hierarki itu tetap berjalan. Ia hanya berganti wujud, warna, ukuran, dan kalimat. Aku sering berhenti di depan deretan papan itu. Membaca nama pengirim—perusahaan, pejabat, atau mungkin hanya seseorang yang ingin terlihat. Di antara bunga yang tertata rapi, aku me...
Baca selengkapnya: Papan Bunga, Juru Bicara Kelas Sosial

Bagaimanapun, Wewangian Tercipta Dari Keringat Seseorang

Bekerja di tempat yang mewah membuatku sadar bahwa keindahan sering lahir dari tangan-tangan yang tidak pernah diajak menikmatinya. Bukan karena dunia kejam, tetapi karena begitulah cara dunia berjalan. Yang tampak indah berdiri di atas kerja sunyi yang jarang terlihat. Setiap pagi, sebelum ruangan dipenuhi suara manusia, seseorang datang lebih dulu. Ia membuka pintu, menyalakan lampu, menata bunga, menggosok lantai hingga mengilap. Sidik jarinya seolah hilang, bercampur dengan marmer yang nanti diinjak sepatu-sepatu seharga lebih dari sebulan gajinya. Ia tidak banyak bicara. Baginya, lantai yang bersih sudah cukup menjadi tanda bahwa hari itu berjalan sebagaimana mestinya. Setiap kilau lantai, setiap bunga segar, dan setiap tawa VIP lahir dari tangan seseorang yang tidak pernah diundang duduk di ruangan itu. Mereka menjaga agar dunia percaya bahwa tempat ini memang seindah itu. Keindahan yang tampak alami, padahal dibangun dari peluh, diam, dan lelah yang tidak pernah disorot. Saat ru...
Baca selengkapnya: Bagaimanapun, Wewangian Tercipta Dari Keringat Seseorang

Aku Tidak Bisa Hidup Dengan Hanya Melakukan Hal Yang Aku Sukai

Aku tidak bisa hidup hanya dengan melakukan hal yang aku sukai. Kalimat itu sederhana, tetapi di baliknya ada letih yang tidak pernah berteriak. Ada penerimaan yang tumbuh pelan, seperti luka yang perlahan berubah menjadi kulit baru. Ada masa ketika aku percaya hidup adalah soal mengejar kebahagiaan pribadi. Namun seiring waktu, aku mulai memahami bahwa hidup selalu bersinggungan dengan orang lain. Sedikit demi sedikit, bagian dari diri yang dulu kujaga rapat ikut larut dalam harapan mereka. Aneh memang. Manusia sering meninggalkan apa yang ia sukai demi orang-orang yang ia cintai. Kita bekerja, menelan bosan, bangun sebelum matahari. Berlari di antara waktu dan lelah. Bukan semata untuk diri sendiri, tetapi agar seseorang di rumah bisa tertawa tanpa beban. Dan entah bagaimana, kita menyebut itu cinta. Lalu aku bertanya pada diriku sendiri. Apakah manusia memang diciptakan untuk seperti ini? Untuk menekan keinginan, mengorbankan sebagian diri, dan menyebutnya kebajikan? Mungkin memang ...
Baca selengkapnya: Aku Tidak Bisa Hidup Dengan Hanya Melakukan Hal Yang Aku Sukai